Rabu, 19 November 2014

Sebatas Kata

 Rasa dan Asa
"Mencintai itu indah, walau tak selamanya mencintai itu mendatangkan kebahagiaan"

Aku mencintaimu tanpa syarat, karena aku perempuan yang terbiasa dan akan selalu bisa mencintai mu walau kau tak pernah mencintai ku. Memang terkesan gila dan ironis. Namun inilah rasa ku yang selalu bisa untuk asa yang kelabu ini. Kau tahu, ingin ku miliki ruang kosong itu dengan mencintai mu. Karena ku percaya, kita ada dari tiada, dan ada ku sungguh karena mu. Haruskah ku menyairkan puisi cinta yang sempurna untuk mu? sedangkan setiap kata yang keluarg dari bibirku adalah mutiara rasaku pada mu.
Asa ini tercipta karena rasa yang gila ini. Percayalah, sekalipun ini gila tapi ini tulus adanya. Terlalu sulit untuk menceritakan pada hati mu tentang rasa ini, namun yang perlu kamu tahu aku hanya ingin mencintai mu.  Itu saja. Ingin ku gapai belahan hati ku yang ada pada mu, agar rasa ini mampu merangkai asa yang kelabu ini. Ini bukan realita rasa yang di rekayasa. Ini asa yang ada karena rasa.

Senin, 20 Oktober 2014

Sabtu, 26 April 2014

cerpen



Matahari ku…
Mengalir deras tiada henti, menghujani sosok tubuh yang terkulai lemah, tak berdaya. Terdengar isak tangis yang terbata-bata. Mungkin terlalu lelah meronta-ronta sejak tadi. Air mata mengalir dari sudut mata elangnya, seakan-akan mengalahkan derasan air yang sejak tadi menghantam tubuhnya. Tatapan mata yang melemas, entah apa yang terjadi dengan dirinya. Mungkinkah dia membagi kisah yang sedang menggerogoti itu??? Entah lah mungkin hati kecilnya yang mampu untuk pahami. Adakah yang mampu merengkuhnya, dan memberi kehangatan walaupun hanya sesaat? Namun apakah mungkin? Mana ada perasaan bisa diatur? Mungkin mereka hanya tertawa melihat kerapuhan hatinya. Luciana nama gadis itu. kenyataan  pahit sedang menghampirinya. Berusaha menjalani semua yang terjadi, namun kadang penyesalan silih berganti menghantuinya. Mungkin, problema sedang mengujinya. Jiwa dan raga menyatu pada kesakitan. Rapuh…
Tersadar pada keadaan, akhirnya Luciana beranjak dari ruang kecil ini. ruang yang sejak tadi menyaksikan kesedihannya. Setelah mengeringkan tubuhnya, dengan langkah yang terkesan lelah, Luciana menghampiri tempat tidurnya yang berwarna serba kuning itu. Perlahan-lahan, dia menyadarkan punggungnya Dipandangi setiap foto yang dipajang disetiap dinding kamarnya. seketika matanya tertuju pada sebuah foto yang terpajang tepat dihadapanya. Foto itu. Air mata kembali menetes dari dua sudut matanya. Entah ada apa dengan foto itu. Tergambar, sepasang remaja sedang  berpose membelakangi sunset. Sunset yang indah. Sore itu. kenangan yang sangat menyakitkan untuk di ingat kembali. Luciana hanya bisa menangis. Entah apa yang harus dia lakukan. Membuang semua kenangan itu, ataukah menyimpannya direlung hati paling jauh? Hingga akhir air matanya, Luciana tampak tertidur pulas. Mungkin, dengan bermimpi, mereka bisa bertemu. Harap Luciana.

Matahari belum sempat muncul, embun-embun masih berjatuhan. Dingin masih menyengat, namun Luciana telah tersadar dari tidurnya. Tubuhnya masih terbaring lemah dan masih diselimuti kain tipis itu. perlahan-lahan jemarinya menyentuh kain jendela kamar yang tepat disamping tempat tidurnya. Berusaha untuk menghela gorden tersebut. Hingga tersisa kaca bening yang mampu membuat pandangannya tembus keluar. Semuanya terlihat gelap. Luciana tak mengalihkan pandangannya sekalipun. Entah apa yang ditunggunya. Hanya kegelapan yang terlihat. Kegelapan mulai sirna, tergantikan oleh sinar matahari yang cerah. Matahari pagi ini begitu indah. Luciana hanya tersenyum sendiri menyaksikan sunrise yang luar biasa itu. Hal inilah yang selalu dinantikan Luciana setiap pagi.
Menyaksikan sunrise adalah kewajibannya. Tersenyum saat memandangnya adalah bahagianya. Hal ini yang dinantikan Luciana sejak tadi. Mungkin dapat membalut sedikit luka yang sedang membelenggu sejak kemarin. Panas matahari mulai menembusi jendela bening itu, wajah nya seolah-olah tertampar oleh panas matahari. Tapi Luciana seolah-olah pasrah. Sinar itu, kehangatan pagi ini pun tak mau mengalah, mencoba menyetubuhi Luciana yang sejak tadi menikmati indahnya. Mata indah itu, tertutup perlahan-lahan. Entah, air mata itu menetes lagi dari sudut mata elangnya itu. Hanya hati yang mampu memahami, dan matahari pagi ini akan jadi saksi setiap air mata itu menetes.
            Gadis itu kembali tertidur pulas. Beberapa saat, terdengar ketokan pintu dari luar kamarnya. “permisi Non, ditunggu Non Cecilia di ruang tamu, “kata mbok Aminah. Luciana yang masih terbaring diatas tempat tidur akhirnnya terbangun. Dipaksakan tubuhnya untuk bergerak walaupun masih terkesan lelah. Di buka pintu kamarnya, ada seorang gadis manis tepat berada didepan pintu. Gadis itu langsung menyambut Luciana dengan senyuman, sambil melangkah memasuki kamar Luciana. Gadis itu Cecilia, sahabat Luciana sejak kecil. “ gimana kabar mu Na?”, tanya Cecilia sambil menggenggam kedua tangan Luciana. Luciana hanya menatap Cecilia sambil tersenyum kecil dan berkata, “seperti yang kamu lihat Cil”. “Kamu harus bisa hadapi semuanya. Aku yakin kamu kuat, kamu pasti bisa”, kata Cecilia lagi. “Andai saja aku tahu dia akan pergi secepat ini, pasti akan ku habiskan waktu bersama nya Cil. Seharusnya aku tidak menuruti permintaannya untuk mengikuti audisi itu. Bahkan melihat wajah terakhirnya sebelum dimakamkan saja, aku belum sempat. Cewek macam apa aku”, tangis Luciana. Cecilia hanya mampu mendengarkan curhatan sahabatnya itu. Dengan  memeluk erat tubuh Luciana, Cecilia berharap mampu mengurangi rasa kehilangan yang sedang membelenggu Luciana,  walaupun hanya sedikit. “Gak perlu ada penyesalan Na, yang terjadi adalah takdir, dan yakinlah Tuhan tahu yang terbaik untuk kamu dan Hary, dan juga kita semua. Hary pasti tak ingin wanita yang dia cintai terpuruk dalam kesedihan karena kepergianya. Yakinlah bahwa Hary akan selalu bersama mu”, kata Cecilia sambil menyeka air mata yang sejak tadi menetes dari sudut mata sendu Luciana, kemudian memeluknya kembali dengan kasih.
Sehari kemudian,,, setelah tiga hari kepergian kekasihnya kepada Sang Maha Cinta, akhirnya Luciana memutuskan untuk bersiarah ke makam Hary. Sore itu, untuk pertama kalinya Luciana mendatangi makam Hary.  Tepat berada didepan makam, Luciana hanya tersenyum kecil. Tatapan mata yang berbinar-binar sendu menatapi tulisan itu, Matahary Dermawan Senja, nama Hary. Seketika air mata yang ditahan sejak tadi akhirnya jatuh juga. Luciana tak mampu menahan rasa kehilangan itu. Dan saat itu lah Luciana percaya, kalau Hary benar-benar telah pergi meninggalkannya. Nasib jalinan cinta yang hampir tiga tahun terjalin, berakhir dengan kesedihan dan kesakitan. Setiap janji indah yang terangkai, untuk selalu memahami dan mencinta dalam bahagia bersama, kini hanya tinggal janji yang menciptakan airmata. Ditatapnya matahari sore itu dengan lekat, Luciana hanya mampu tersenyum kesakitan. “Hanya inikah kenangan terindah dan abadi untuk kita”? Matahari selalu menjadi saksi cinta, dan menjadi pengobat rasa rindu bila aku merindukan mu, dan aku harus terbiasa menghantarkan matahari kembali keperaduannya tanpa diri mu lagi”, keluh Luciana sambil menyeka tetesan bening-bening putih dari sudut matanya. Kini, aku harus belajar untuk terbiasa dengan setiap kisah yang pernah terjadi antara kita, dan menjadikan semua itu sebagai hadiah terindah dari mu”, kata Luciana dalam hati. Setelah berdoa dimakamnya Hari, Luciana mengeluarkan secarik kertas kuning dengan tulisan berwarna ungu, dan meletakannya tepat diatas makam Hary. Tertera untaian kata indah dari hati Luciana untuk Hary,
Kamu adalah matahari dilangit ku
Yang selalu ada walau terkadang raga kita berpisah
Kamu adalah kata dari setiap puisi ku
Yang selalu menyadarkan ku akan misteri cinta
Kamu adalah nada dalam lagu ku
Yang selalu mengiringi setiap perjalanan hatiku
Dan kamu adalah setiap alasan
Yang selalu membuat ku untuk tersenyum dan mencinta
Untuk mu Matahari Dermawan Senja ku…
                                                                                                TO BE CONTINUE

Kamis, 06 Februari 2014

Puisi



SENANDUNG RASA



Hati ku terlalu banyak bercerita tentang cinta

Hingga jiwa ku tak berhenti melantunkan syair indah

Dan raga ku memilih untuk menyerah

Karena mencintai dalam diam adalah pilihan ku

Disetiap asa ku selalu ada bayangan mu

Berharap cinta selamanya nyata dalam benak

Agar nyanyian hati ku selalu bersemi

Menjadikan diriku tuk selalu mengerti

Ini rasa ku

Membiarkan matahari menidurinya,

Hingga terlelap dalam pelukan dinginnya malam

Saat bintang-bintang menari-nari dalam nuansa cinta

Dan bulan tak mau kalah dengan senandung rindu…

Hati dan pikiran mulai berselingkuh

Menyatukan senandung rasa penuh misteri

Dalam jiwa dan raga yang selalu menyatu











pengenalan :-)

"Biarkan huruf-huruf terangkai diatas putihnya kerajaan kertas, agar setiap rahasia kata yang sempat tercipta dalam pikiran mampu dimengerti oleh para pengagum rahasia"