Matahari ku…
Mengalir deras tiada
henti, menghujani sosok tubuh yang terkulai lemah, tak berdaya. Terdengar isak
tangis yang terbata-bata. Mungkin terlalu lelah meronta-ronta sejak tadi. Air
mata mengalir dari sudut mata elangnya, seakan-akan mengalahkan derasan air yang
sejak tadi menghantam tubuhnya. Tatapan mata yang melemas, entah apa yang
terjadi dengan dirinya. Mungkinkah dia membagi kisah yang sedang menggerogoti
itu??? Entah lah mungkin hati kecilnya yang mampu untuk pahami. Adakah yang
mampu merengkuhnya, dan memberi kehangatan walaupun hanya sesaat? Namun apakah
mungkin? Mana ada perasaan bisa diatur? Mungkin mereka hanya tertawa melihat
kerapuhan hatinya. Luciana nama gadis itu. kenyataan pahit sedang menghampirinya. Berusaha
menjalani semua yang terjadi, namun kadang penyesalan silih berganti
menghantuinya. Mungkin, problema sedang mengujinya. Jiwa dan raga menyatu pada
kesakitan. Rapuh…
Tersadar pada keadaan,
akhirnya Luciana beranjak dari ruang kecil ini. ruang yang sejak tadi
menyaksikan kesedihannya. Setelah mengeringkan tubuhnya, dengan langkah yang
terkesan lelah, Luciana menghampiri tempat tidurnya yang berwarna serba kuning
itu. Perlahan-lahan, dia menyadarkan punggungnya Dipandangi setiap foto yang
dipajang disetiap dinding kamarnya. seketika matanya tertuju pada sebuah foto
yang terpajang tepat dihadapanya. Foto itu. Air mata kembali menetes dari dua
sudut matanya. Entah ada apa dengan foto itu. Tergambar, sepasang remaja
sedang berpose membelakangi sunset. Sunset
yang indah. Sore itu. kenangan yang sangat menyakitkan untuk di ingat kembali.
Luciana hanya bisa menangis. Entah apa yang harus dia lakukan. Membuang semua
kenangan itu, ataukah menyimpannya direlung hati paling jauh? Hingga akhir air
matanya, Luciana tampak tertidur pulas. Mungkin, dengan bermimpi, mereka bisa
bertemu. Harap Luciana.
Matahari belum sempat
muncul, embun-embun masih berjatuhan. Dingin masih menyengat, namun Luciana
telah tersadar dari tidurnya. Tubuhnya masih terbaring lemah dan masih
diselimuti kain tipis itu. perlahan-lahan jemarinya menyentuh kain jendela
kamar yang tepat disamping tempat tidurnya. Berusaha untuk menghela gorden
tersebut. Hingga tersisa kaca bening yang mampu membuat pandangannya tembus
keluar. Semuanya terlihat gelap. Luciana tak mengalihkan pandangannya
sekalipun. Entah apa yang ditunggunya. Hanya kegelapan yang terlihat. Kegelapan
mulai sirna, tergantikan oleh sinar matahari yang cerah. Matahari pagi ini
begitu indah. Luciana hanya tersenyum sendiri menyaksikan sunrise yang luar
biasa itu. Hal inilah yang selalu dinantikan Luciana setiap pagi.
Menyaksikan sunrise
adalah kewajibannya. Tersenyum saat memandangnya adalah bahagianya. Hal ini
yang dinantikan Luciana sejak tadi. Mungkin dapat membalut sedikit luka yang
sedang membelenggu sejak kemarin. Panas matahari mulai menembusi jendela bening
itu, wajah nya seolah-olah tertampar oleh panas matahari. Tapi Luciana
seolah-olah pasrah. Sinar itu, kehangatan pagi ini pun tak mau mengalah,
mencoba menyetubuhi Luciana yang sejak tadi menikmati indahnya. Mata indah itu,
tertutup perlahan-lahan. Entah, air mata itu menetes lagi dari sudut mata
elangnya itu. Hanya hati yang mampu memahami, dan matahari pagi ini akan jadi
saksi setiap air mata itu menetes.
Gadis itu kembali tertidur pulas. Beberapa saat,
terdengar ketokan pintu dari luar kamarnya. “permisi Non, ditunggu Non Cecilia
di ruang tamu, “kata mbok Aminah. Luciana yang masih terbaring diatas tempat
tidur akhirnnya terbangun. Dipaksakan tubuhnya untuk bergerak walaupun masih
terkesan lelah. Di buka pintu kamarnya, ada seorang gadis manis tepat berada
didepan pintu. Gadis itu langsung menyambut Luciana dengan senyuman, sambil
melangkah memasuki kamar Luciana. Gadis itu Cecilia, sahabat Luciana sejak
kecil. “ gimana kabar mu Na?”, tanya Cecilia sambil menggenggam kedua tangan
Luciana. Luciana hanya menatap Cecilia sambil tersenyum kecil dan berkata,
“seperti yang kamu lihat Cil”. “Kamu harus bisa hadapi semuanya. Aku yakin kamu
kuat, kamu pasti bisa”, kata Cecilia lagi. “Andai saja aku tahu dia akan pergi secepat
ini, pasti akan ku habiskan waktu bersama nya Cil. Seharusnya aku tidak
menuruti permintaannya untuk mengikuti audisi itu. Bahkan melihat wajah
terakhirnya sebelum dimakamkan saja, aku belum sempat. Cewek macam apa aku”,
tangis Luciana. Cecilia hanya mampu mendengarkan curhatan sahabatnya itu.
Dengan memeluk erat tubuh Luciana,
Cecilia berharap mampu mengurangi rasa kehilangan yang sedang membelenggu
Luciana, walaupun hanya sedikit. “Gak
perlu ada penyesalan Na, yang terjadi adalah takdir, dan yakinlah Tuhan tahu
yang terbaik untuk kamu dan Hary, dan juga kita semua. Hary pasti tak ingin
wanita yang dia cintai terpuruk dalam kesedihan karena kepergianya. Yakinlah
bahwa Hary akan selalu bersama mu”, kata Cecilia sambil menyeka air mata yang
sejak tadi menetes dari sudut mata sendu Luciana, kemudian memeluknya kembali
dengan kasih.
Sehari
kemudian,,, setelah tiga hari kepergian kekasihnya kepada Sang Maha Cinta,
akhirnya Luciana memutuskan untuk bersiarah ke makam Hary. Sore itu, untuk
pertama kalinya Luciana mendatangi makam Hary. Tepat berada didepan makam, Luciana hanya
tersenyum kecil. Tatapan mata yang berbinar-binar sendu menatapi tulisan itu,
Matahary Dermawan Senja, nama Hary. Seketika air mata yang ditahan sejak tadi
akhirnya jatuh juga. Luciana tak mampu menahan rasa kehilangan itu. Dan saat
itu lah Luciana percaya, kalau Hary benar-benar telah pergi meninggalkannya. Nasib
jalinan cinta yang hampir tiga tahun terjalin, berakhir dengan kesedihan dan
kesakitan. Setiap janji indah yang terangkai, untuk selalu memahami dan
mencinta dalam bahagia bersama, kini hanya tinggal janji yang menciptakan
airmata. Ditatapnya matahari sore itu dengan lekat, Luciana hanya mampu
tersenyum kesakitan. “Hanya inikah kenangan terindah dan abadi untuk kita”?
Matahari selalu menjadi saksi cinta, dan menjadi pengobat rasa rindu bila aku
merindukan mu, dan aku harus terbiasa menghantarkan matahari kembali
keperaduannya tanpa diri mu lagi”, keluh Luciana sambil menyeka tetesan
bening-bening putih dari sudut matanya. Kini, aku harus belajar untuk terbiasa
dengan setiap kisah yang pernah terjadi antara kita, dan menjadikan semua itu
sebagai hadiah terindah dari mu”, kata Luciana dalam hati. Setelah berdoa
dimakamnya Hari, Luciana mengeluarkan secarik kertas kuning dengan tulisan
berwarna ungu, dan meletakannya tepat diatas makam Hary. Tertera untaian kata
indah dari hati Luciana untuk Hary,
Kamu
adalah matahari dilangit ku
Yang
selalu ada walau terkadang raga kita berpisah
Kamu
adalah kata dari setiap puisi ku
Yang
selalu menyadarkan ku akan misteri cinta
Kamu
adalah nada dalam lagu ku
Yang
selalu mengiringi setiap perjalanan hatiku
Dan
kamu adalah setiap alasan
Yang
selalu membuat ku untuk tersenyum dan mencinta
Untuk
mu Matahari Dermawan Senja ku…
TO
BE CONTINUE